Tuesday, December 22, 2015

Pertemuan Tak Disengaja

Source. Kompasiana.com
Kemana saja. Itu pertanyaan yang mengisi inbox. Dan jawabnya tak sulit. Tidak kemana-mana. Rumah, dapur, pasar, menjemput lelaki kecilku dari sekolah, lalu kembali lagi ke rumah.

Rutinitas harian yang begitu konstan. Tak ada ruang untuk hal lain, bahkan nyaris tak ada ruang untuk diri sendiri. Walaupun sebenaranya ada sih, tapi celah itu tidak besar dan terisi. Aku masih sangat mensyukuri ruang kecil itu, aku masih punya waktu untuk menikmati ibadahku. 

Tahajud sebelum memulai urusan dapur. Subuh setelah iqamah berkumandang, selalu ada tempat untuk shalat dan mengaji, bahkan aku masih bisa membaca selembar dua lembar buku, tapi begitu kecilnya celah itu, tak memungkinkan untk menulis, buka laptop, apalagi ke salon mengurusi diri secara khusus. Sosmed dan hingar bingarnya, bukan duniaku.

Pagi ini, berbeda.

Aku pulang dari pasar dan ternyata semua urusan beres. Aku punya waktu sampai siang nanti, sebelum menjemput ke sekolah.

Aku ingin menulis, tapi begitu banyak yang ingin diceritakan, begitu sedikit waktu. Dan kata yang kususun jadi kekacauan yang membingungkan. Apa hal istimewa, yang tidak biasa, yang ingin kurekam dalam tulisan. Banyak bila menyangkut lelaki kecilku. Tapi aku ingin menuliskan yang lain saja.

Pertemuan yang tidak disangka. Aku tuliskan mengenai ini saja.

Pertemuan dengan siapa? Pertengahan bulan lalu aku bertemu dengan dua orang teman baru. Lebih tepat sebutannya aku berjumpa dengan dua orang yang ku kenal tapi mereka tidak mengenali aku.
Yang pertama, adalah seorang pemuda dengan prestasi terlalu banyak. Aku membaca tulisan demi tulisannya, dan yang terpikir selain kagum, adalah betapa panjangnya lembar biodatanya. Aku duduk di bangku, menunggu Rina membeli kaos bernuansa Aceh di toko Piyoh. Lalu sadar pemuda yang sedang berbicara dengan dua orang di depanku adalah Pak Hijrah Saputra. Aku kenal wajahnya dari grup Gam Inong Blogger.

Menggelikan memang untuk merasa grogi. Tapi itu yang terjadi. Seharusnya aku menyapa, tapi segan membuatku memilih diam saja. Dan aku bersyukur aku sedang duduk, sehingga tongkat dan kaki palsuku tidak kelihatan.

Lalu bagaimana? Tidak ada lalu. Karena mereka kemudian pergi. Dan aku tetap diam disitu, di bangku itu.

Kedua, hanya berselang menit. Di tempat parkir, warung kopi di sebelah Piyoh. Rina yang ceroboh membuat belanjaannya jatuh berantakan dan tak sengaja menepis tongkatku. Untuk aku sempat berpegangan pada seseorang yang sedang berdiri di tempat parkir. Malu bukan main, karena seseorang itu laki-laki. 

Bayangkan betapa terkejutnya ketika melihat aku kenal wajahnya. Dalam waktu nyaris berselang sekian menit, aku bertemu dua orang yang hanya kukenal dari fotonya di Gam Inong Blogger. Tanpa sebab aku memperkenalkan diri. Bang Said Fadhil sepertinya bingung ketika aku menyebut nama Isna. Tapi ketika kusebut Gam Inong Blogger dan nama blogku, dia tersenyum.

Percakapan kami singkat, hanya basa basi mengenai blog. Yang kusadari adalah, dua orang itu berbeda kesannya dengan foto mereka. Pak Hijrah ternyata jauh lebih muda dari fotonya, dan sangat percaya diri, sikapnya menunjukkan dengan jelas. Sedangkan Bang Said, apa kata yang tepat menggambarkanya. Tidak secerah dan gembira seperti di laman sosmed. Jauh lebih tua dari fotonya, dan seperti sangat kelelahan. Tapi anehnya aku merasa dia bisa jadi teman yang baik. Ada kesan kebapakan yang kuat. Seperti melihat abuchikku, tua dimakan usia, tapi menenangkan.

Malam setelahnya, atau mungkin selama beberapa hari setelahnya. Aku tidak ingat pasti. Tapi aku berpikir tentang dua orang itu. Bukan memikirkan dalam artian suka. Aku memikirkan kesan tentang keduanya. Aku merenungi bagaimana berbedanya kesan yang kulihat antara mereka dalam wujud karakter di sosmed, dan mereka dalam kehidupan nyata.

Aku berpikir, ternyata begitu mudah kita menciptakan ilusi tentang seseorang menurut pikiran kita, menurut opini dan pendapat kita. Seperti ketika kita mendengar suara orang yang menimbulkan kesan kejam, tapi kenyataannya orang yang sangat lembut. Atau seperti senyum ramah di gambar profil, dan sosok pendiam anti sosial di dunia nyata.


Dan berapa banyak, orang yang menciptakan kesimpulan tentang aku, hanya dengan opini mereka, terhadap apa yg mereka bayangkan dari blog atau sosmed.

10 comments:

  1. Replies
    1. Mala mau juga ketemuan. Tapi waktu sempit, sama malu rasanya.

      Delete
    2. Ihhh malu gmn .. hayuklah malah.. klo lg free kabar2i yaa.. klo g ketemu2 gak seru ah.. 😀😀

      Delete
  2. Meskipun mendapat perlakuan yang tak adil, udahlah dimaklumi aja. Tapi tetap tulisannya enak dibaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Sayid, jangan marah ya. Ini betul-betul seadanya apa yg Mala rasa waktu itu. Tapi Mala tahu dan tdk ragu, bang sayid orangnya baik dan teduh.

      Delete
  3. Keren kk tulisannya.

    ReplyDelete
  4. whuaaa
    Pak hijrah lalu berubah menjadi muda, dan bang sayid berubah menjadi abuchik?? alamaak abuchik??? :D
    bang sayid memang tua dimakan oleh pengalamannya. dan saya, adalah orang yang paling senang mendengar semua cerita pengalamannya yang luar biasa! trust me!

    ReplyDelete
  5. Hehe, lucu baca tulisan kak Isna ni, tapi sedih juga, nanti kalo ketemu lagi kita sapalah ya, siapa tau bisa ngopi-ngopi dan berbagi pengalaman :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...